Jumat, 30 November 2012

Mengenal Cloud Computing

Mungkin ada alternatif bagi para eksekutif seperti anda. Alih-alih menginstal sebuah paket perangkat lunak untuk setiap komputer, anda hanya harus memuat satu aplikasi. Aplikasi yang akan memungkinkan para pekerja untuk login ke layanan berbasis web yang ter-host ke semua program pengguna berdasarkan kebutuhan nya atau pekerjaannya. Mesin remote yang dimiliki oleh perusahaan lain akan menjalankan semuanya dari e-mail ke pengolah kata untuk program analisis data yang kompleks ini. Hal ini disebut cloud computing dan ini bisa mengubah seluruh industri komputer.
Dalam sistem cloud computing, ada pergeseran beban kerja yang signifikan. Komputer lokal tidak lagi harus melakukan semua beban berat ketika digunakan. Jaringan komputer yang cloud ini menangani mereka sebagai gantinya. Hardware dan software pada sisi pengguna menurun. Satu-satunya hal dimana komputer pengguna harus mampu untuk menjalankan adalah antarmuka perangkat lunak sistem cloud computing, yang sederhana sebagai peramban Web, dan cloud network akan mengurus sisanya.
apa itu cloud computing 
Ada kesempatan baik jika anda sudah menggunakan beberapa bentuk cloud computing. Jika anda memiliki account e-mail dengan layanan Web-based e-mail seperti Hotmail, Yahoo! Mail atau Gmail, maka anda telah memiliki beberapa pengalaman dengan cloud computing. Malah untuk menjalankan program e-mail pada komputer anda, anda dapat login ke account e-mail Web anda secara jarak jauh / dapat dikendalikan dari tempat lain. Perangkat lunak dan penyimpanan untuk account anda tidak ada pada komputer anda – tetapi pada layanan cloud computer .
Arsitektur Cloud Computing
Ketika berbicara tentang sistem cloud computing, sistem ini terbagi menjadi dua bagian: ujung depan dan ujung belakang. Mereka terhubung satu sama lain melalui jaringan, biasanya adalah Internet. Ujung depan adalah sisi pengguna komputer (user), atau klien (client), melihat. Bagian belakang adalah “cloud” bagian dari sistem.
Ujung depan termasuk komputer klien (atau jaringan komputer) dan aplikasi yang diperlukan untuk mengakses sistem komputasi awan. Tidak sistem komputasi awan semua memiliki antarmuka pengguna yang sama. Layanan seperti Web-based e-mail program memanfaatkan browser Web yang ada seperti Internet Explorer atau Firefox. Sistem lain memiliki aplikasi unik yang menyediakan akses jaringan untuk klien.
Di ujung belakang sistem adalah berbagai komputer, server dan sistem penyimpanan data yang menciptakan “cloud” dari layanan komputasi. Secara teori, sebuah cloud computer system dapat mencakup hampir semua program komputer yang dapat anda bayangkan, dari data pengolahan hingga video game. Biasanya, setiap aplikasi akan memiliki server khusus nya sendiri.
cloud computing 
Sebuah server pusat mengelola sistem, memantau lalu lintas dan permintaan client untuk memastikan semuanya berjalan lancar. Sistem ini mengikuti seperangkat aturan yang disebut protokol dan menggunakan jenis khusus dari perangkat lunak yang disebut middleware. Middleware network memungkinkan komputer untuk berkomunikasi satu sama lain. Sebagian besar, server tidak berjalan pada kapasitas penuh. Itu berarti ada kekuatan pemrosesan yang hasil buangannya tidak terpakai. Maka akan memerlukan sebuah cara. Teknik ini disebut virtualisasi server. Dengan memaksimalkan output dari setiap server, virtualisasi server mengurangi kebutuhan pada mesin dalam bekerja.

Cloud Computing

Definisi Cloud Computing
Ketika kita membicarakan Cloud Computing, sebenarnya apakah kita membicarakan hal yang sama?
Banyak pihak memberikan definisi cloud computing dengan perbedaan di sana-sini.
Wikipedia mendefinisikan cloud computing sebagai “komputasi berbasis Internet, ketika banyak server digunakan bersama untuk menyediakan sumber daya, perangkat lunak dan data pada komputer atau perangkat lain pada saat dibutuhkan, sama seperti jaringan listrik”.
Gartner mendefinisikannya sebagai “sebuah cara komputasi ketika layanan berbasis TI yang mudah dikembangkan dan lentur disediakan sebagai sebuah layanan untuk pelanggan menggunakan teknologi Internet.”
Forester mendefinisikannya sebagai “standar kemampuan TI, seperti perangkat lunak, platform aplikasi, atau infrastruktur, yang disediakan menggunakan teknologi Internet dengan cara swalayan dan bayar-per-pemakaian.”
Secara sederhana, Cloud Computing dapat kita bayangkan seperti sebuah jaringan listrik. Apabila kita membutuhkan listrik, apakah kita harus punya pembangkit listrik sendiri? Tentu tidak. Kita tinggal menghubungi penyedia layanan (dalam hal ini, PLN), menyambungkan rumah kita dengan jaringan listrik, dan kita tinggal menikmati layanan tersebut. Pembayaran kita lakukan bulanan sesuai pemakaian.
Kalau listrik bisa seperti itu, mengapa layanan komputasi tidak bisa? Misalnya, apabila sebuah perusahaan membutuhkan aplikasi CRM (Customer Relationship Management). Kenapa perusahaan tersebut harus membeli aplikasi CRM, membeli hardware server, dan kemudian harus memiliki tim TI khusus untuk menjaga server dan aplikasi tersebut?
Di sinilah cloud computing berperan. Penyedia jasa cloud computing seperti Microsoft, telah menyediakan aplikasi CRM yang dapat digunakan langsung oleh perusahaan tadi. Mereka tinggal menghubungi penyedia layanan (dalam hal ini, Microsoft), “menyambungkan” perusahaannya dengan layanan tersebut (dalam hal ini, melalui Internet), dan tinggal menggunakannya. Pembayaran? Cukup dibayar per bulan (atau per tahun, tergantung kontrak) sesuai pemakaian. Tidak ada lagi investasi di awal yang harus dilakukan.
Agar lebih mudah membayangkannya, silahkan lihat ilustrasi pada Gambar 1.http://itmove.files.wordpress.com/2011/06/ilustrasi-cloud2-g1.jpg?w=490
Karakteristik Cloud Computing
Dengan semakin maraknya pembicaraan seputar cloud computing, semakin banyak perusahaan yang mengumumkan bahwa mereka menyediakan layanan cloud computing.
Akan sangat membingungkan bagi kita para pengguna untuk memastikan bahwa layanan yang akan kita dapatkan adalah cloud computing atau bukan.
Untuk mudahnya, dari semua definisi yang ada, dapat diintisarikan bahwa cloud computing ideal adalah layanan yang memiliki 5 karakteristik berikut ini.
1. On-Demand Self-Services
Sebuah layanan cloud computing harus dapat dimanfaatkan oleh pengguna melalui  mekanisme swalayan dan langsung tersedia pada saat dibutuhkan. Campur tangan penyedia layanan adalah sangat minim. Jadi, apabila kita saat ini membutuhkan layanan aplikasi CRM (sesuai contoh di awal), maka kita harus dapat mendaftar secara swalayan dan layanan tersebut langsung tersedia saat itu juga.
2. Broad Network Access
Sebuah layanan cloud computing harus dapat diakses dari mana saja, kapan saja, dengan alat apa pun, asalkan kita terhubung ke jaringan layanan. Dalam contoh layanan aplikasi CRM di atas, selama kita terhubung ke jaringan Internet, saya harus dapat mengakses layanan tersebut, baik itu melalui laptop, desktop, warnet, handphone, tablet, dan perangkat lain.
3. Resource Pooling
Sebuah layanan cloud computing harus tersedia secara terpusat dan dapat membagi sumber daya secara efisien. Karena cloud computing digunakan bersama-sama oleh berbagai pelanggan, penyedia layanan harus dapat membagi beban secara efisien, sehingga sistem dapat dimanfaatkan secara maksimal.
4. Rapid Elasticity
Sebuah layanan cloud computing harus dapat menaikkan (atau menurunkan) kapasitas sesuai kebutuhan. Misalnya, apabila pegawai di kantor bertambah, maka kita harus dapat menambah user untuk aplikasi CRM tersebut dengan mudah. Begitu juga jika pegawai berkurang. Atau, apabila kita menempatkan sebuah website berita dalam jaringan cloud computing, maka apabila terjadi peningkatkan traffic karena ada berita penting, maka kapasitas harus dapat dinaikkan dengan cepat.
5. Measured Service
Sebuah layanan cloud computing harus disediakan secara terukur, karena nantinya akan digunakan dalam proses pembayaran. Harap diingat bahwa layanan  cloud computing dibayar sesuai penggunaan, sehingga harus terukur dengan baik.
Kelebihan Cloud Computing
Dari semua penjelasan di atas, apa sebenarnya kelebihan dari Cloud Computing, terutama bagi dunia bisnis? Berikut beberapa di antaranya.
Tanpa Investasi Awal
Dengan cloud computing, kita dapat menggunakan sebuah layanan tanpa investasi yang signifikan di awal.
Ini sangat penting bagi bisnis, terutama bisnis pemula (startup). Mungkin di awal bisnis, kita hanya perlu layanan CRM untuk 2 pengguna. Kemudian meningkat menjadi 10 pengguna.
Tanpa model cloud computing, maka sejak awal kita sudah harus membeli hardware yang cukup untuk sekian tahun ke depan. Dengan cloud computing, kita cukup membayar sesuai yang kita butuhkan.
Mengubah CAPEX menjadi OPEX
Sama seperti kelebihan yang pertama, kelebihan yang kedua masih seputar keuangan.
Tanpa cloud computing, investasi hardware dan software harus dilakukan di awal, sehingga kita harus melakukan pengeluaran modal (Capital Expenditure, atau CAPEX). Sedangkan dengan cloud computing, kita dapat melakukan pengeluaran operasional (Operational Expenditure, atau OPEX).
Jadi, sama persis dengan biaya utilitas lainnya seperti listrik atau telepon ketika kita cukup membayar bulanan sesuai pemakaian. Hal ini akan sangat membantu perusahaan secara keuangan.
Lentur dan Mudah Dikembangkan
Dengan memanfaatkan Cloud Computing, bisnis kita dapat memanfaatkan TI sesuai kebutuhan. Perhatikan Gambar 2 di bawah untuk melihat beberapa skenario kebutuhan bisnis.
Penggunaan TI secara bisnis biasanya tidak datar-datar saja.
Dalam skenario “Predictable Bursting”, ada periode di mana penggunaan TI meningkat tajam. Contoh mudah adalah aplikasi Human Resource (HR) yang pada akhir bulan selalu meningkat penggunaannya karena mengelola gaji karyawan.
Untuk skenario “Growing Fast”, bisnis meningkat dengan pesat sehingga kapasitas TI juga harus mengikuti.
Contoh skenario “Unpredictable Bursting” adalah ketika sebuah website berita mendapat pengunjung yang melonjak karena ada berita menarik.
Skenario “On and Off” adalah penggunaan TI yang tidak berkelanjutan. Misalnya, sebuah layanan pelaporan pajak, yang hanya digunakan di waktu-waktu tertentu setiap tahun.
http://itmove.files.wordpress.com/2011/06/karakteristik-cloud2-g2.jpg?w=490&h=323
[Gambar 2: Beberapa skenario kebutuhan bisnis.]
Tanpa layanan cloud computing, ke empat skenario ini akan membutuhkan perencanaan TI yang sangat tidak efisien, karena investasi TI harus dilakukan sesuai kapasitas tertinggi, walaupun mungkin hanya terjadi di saat-saat tertentu. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadi kegagalan layanan pada saat “peak time” tersebut.
Dengan cloud computing, karena sifatnya yang lentur dan mudah dikembangkan (elastic and scalable), maka kapasitas dapat ditingkatkan pada saat dibutuhkan, dengan biaya penggunaan sesuai pemakaian.
Fokus pada Bisnis, bukan TI
Dengan menggunakan Cloud Computing, kita dapat fokus pada bisnis utama perusahaan, dan bukan berkecimpung di dalam pengelolaan TI. Hal ini dapat dilakukan karena pengelolaan TI dilakukan oleh penyedia layanan, dan bukan oleh kita sendiri. Misalnya, melakukan patching, security update, upgrade hardware, upgrade software, maintenance, dan lain-lain.
Apabila kita memiliki tim TI, maka tim tersebut dapat fokus pada layanan TI yang spesifik untuk bisnis kita, sedangkan hal-hal umum sudah ditangani oleh penyedia layanan.
Kesimpulan
Cloud computing sudah hadir saat ini, termasuk di Indonesia. Jadi, cloud computing bukanlah sebuah hype, melainkan sudah menjadi kenyataan dalam dunia TI.
Bukan berarti kita semua langsung harus berpindah saat ini juga: pada kenyataannya cloud computing bukanlah untuk semua orang. Masih tetap terdapat jenis-jenis layanan yang memang harus dilakukan secara on-premise, walaupun terdapat juga layanan yang menjadi sangat efisien bila dilakukan dengan cloud computing. Beberapa jenis layanan bahkan dapat dilakukan secara bersamaan (hybrid) dengan menggabungkan kedua jenis implementasi tersebut.
Oleh karena itu, carilah penyedia layanan yang dapat memberikan saran yang tepat dan terbaik bagi kebutuhan anda. Kesuksesan penggunaan cloud computing akan sangat ditentukan oleh kemampuan penyedia layanan dalam memberikan layanan yang tepat dan terbaik bagi pelanggan.

Jumat, 23 November 2012

Pos-Test vclass Analisis Kinerja Sistem

Aset Sistem Informasi harus dilindungi melalui sistem keamanan yang baik. Sebut dan jelaskan langkah-langkah utama pelaksanaan program keamanan tsb.



Persiapan Rencana Pekerjaan (Preparation of a Project Plan)
Perencanaan proyek untuk tinjaun kemanan mengikuti item sbb :
a. Tujuan Review
b. Ruang Lingkup (Scope) Review
c. Tugas yang harus dipenuhi
d. Organisasi dari Tim Proyek
e. Sumber Anggaran (Pendanaan) dan
f. Jadwal untuk Menyelesaikan Tugas
Identifikasi Kekayaan (Identification of asset)
Katagori asset :
a. Personnel (end users, analyst, programmers, operators, clerks, Guards)
b. Hardware (Mainfarme, minicomputer, microcomputer, disk, printer,
communication lines, concentrator, terminal)
c. Fasilitas (Furniture, office space, computer rrom, tape storage rack)
d. Dokumentasi (System and program doc.,database doc.,standards plans, insurance
policies, contracts)
e. Persediaan (Negotiable instrument, preprinted forms, paper, tapes, cassettes)
f. Data/Informasi (Master files, transaction files, archival files)
g. Software Aplikasi (Debtors, creditors, payroll, bill-of-materials, sales, inventory)
h. Sistem Software (Compilers, utilities, DBMS, OS, Communication Software,
Spreadsheets)
Penilaian Kekayaan (Valuation of asset)
Langkah ke tiga adalah penilaian kekayaan, yang merupakan langkah paling sulit. Parker
(1981) menggambarkan ketergantungan penilaian pada siapa yang ditanya untuk
memberikan penilaian, cara penilaian atas kekayaan yang hilang (lost), waktu periode
untuk perhitungan atas hilangnya kekayaan, dan umur asset.

Pre-Test v-class Analisis Kinerja Sistem

Untuk mengamankan sustu Sistem Informasi menurut anda apa saja yang perlu dilindungi?

Aset Sistem Informasi yang harus di lindungi melalui sistem keamanan dapat diklasifikasikan menjadi 2 yaitu :

  • Aset Fisik, meliputi :

a. Personnel

b. Hardware (termasuk media penyimpanan, dan periperalnya)

c. Fasilitas

d. Dokumentasi dan

e. Supplies

  • Aset Logika 

a. Data / Informasi dan

b. Sofware (Sistem dan Aplikasi)


Sabtu, 17 November 2012

Tahun 2012, 10 Persen Pengguna Internet Mengakses dari Perangkat Mobile

Tahun 2012 ini, jumlah penggunaan perangkat mobile untuk aktivitas di internet semakin meningkat. Dalam catatan NetMarketShare, saat ini prosentase penggunaan tablet dan smartphone untuk berinternet mencapai angka 10.3 persen.



 

Jumlah tersebut pun mengalami kenaikan dibandingkan enam bulan sebelumnya. Menurut catatan NetMarketShare, di bulan April 2012, terdapat 7.3 persen pengguna internet yang memanfaatkan perangkat mobile.



Yang cukup menarik adalah jenis perangkat mobile yang digunakan. Meskipun menjadi sistem operasi mobile paling populer di dunia, ternyata tak membuat penggunaan handphone dan tablet Android untuk berinternet mampu mengalahkan perangkat iOS.



 

Dalam catatan NetMarketShare, perangkat iOS adalah yang paling dominan dengan prosentase mencapai 60 persen. Sedangkan tablet serta smartphone Android hanya mencapai angka prosentase sebesar 27 persen. Selain itu, Safari juga menjadi pilihan utama para netter dengan presentase 60.31 persen. Selanjutnya, 25.95 persen menggunakan browser Android, dan 8.24 persen memakai Opera Mini. Selebihnya, terdapat browser BlackBerry sebanyak 1.32 persen dan Symbian sebesar 0.89 persen.

90 Persen Smartphone di Cina Gunakan Sistem Operasi Android



 


Handphone dan tablet Android kini benar-benar menguasai dataran Cina. Tingkat penggunaan sistem operasi mobile bikinan Google tersebut pun kini mencapai prosesntase 90.1 persen, meningkat sebesar 58.2 persen dibandingkan tahun lalu.


Data ini merupakan data yang diperoleh Analysys International. Menurut data tersebut, tren penggunaan handphone dan tablet Android di Negeri Tirai Bambu tersebut pun terus mengalami kenaikan. Pada kuartal sebelumnya, penggunaan OS tersebut mencapai 83 persen.
Dari data yang sama juga menunjukkan bahwa penggunaan iOS milik Apple mengalami penurunan. Analysys International mencatat bahwa terdapat penurunan dari angka 6 persen menuju 4.2 persen dalam penggunaan iOS di Cina.

 
Namun, Analysys International mencatat bahwa data tersebut belum termasuk pasar abu-abu. Seperti diketahui, saat ini iPhone 5 belum masuk ke pasaran Cina. Namun, tak menutup kemungkinan banyak penjual yang menyelundupkan iPhone 5 dari Hong Kong ke Cina.
Nasib serupa juga dihadapi oleh Symbian milik Nokia. Bahkan penurunan yang terjadi pada sistem operasi tersebut pun cukup drastis, dari 6 persen turun menjadi 2.4 persen. Padahal dalam beberapa waktu mendatang, Nokia merupakan salah satu perusahaan handphone yang dominan di pasaran Cina.

Samsung dan Apple masih Kuasai Pasaran Smartphone Dunia


Dua perusahaan smartphone, Apple dan Samsung, nampaknya masih menjadi perusahaan yang mendominasi pasaran smartphone dunia. Dan, kemungkinan besar, tren tersebut pun masih akan terus berlanjut untuk beberapa tahun mendatang.
 
Hal ini diungkapkan oleh lembaga penelitian pasar Gartner. Mereka mengungkapkan bahwa Samsung dan Apple menguasai total 46.5 persen pernjualan smartphone dunia. Dan, kalau prosentasi tersebut diungkapkan dalam angka, Samsung berhasil menjual sebanyak 55 juta unit smartphone, sedangkan Apple telah memasarkan 23.6 juta iPhone.
 
Di samping kedua perusahaan tersebut, produsen smartphone lain sama sekali tidak mampu menganggu dominasi kedua perusahaan itu. Research in Motion (RIM), Nokia ataupun produsen handphone Android lainnya masih belum bisa menganggu konsistensi Apple dan Samsung.
Namun, yang menjadi catatan Gartner, Samsung mengalami kenaikan penjualan dalam kuartal ketiga di tahun 2012 ini. Untuk platform Android, Samsung berhasil menguasai pasaran dengan prosentase sebesar 72.4 persen, meningkat dari angka 52.5 persen di kuartal sebelumnya. Sedangkan di waktu yang bersamaan, Appel mengalami penurunan sebesar 13.9 persen.